Website counter

Tuesday, April 21, 2015

Membentuk dapil yang adil





Gerrymandering -- drawing political boundaries to give your party a numeric advantage over an opposing party -- is a difficult process to explain. If you find the notion confusing, check out the chart above -- adapted from one posted to Reddit this weekend -- and wonder no more.
Suppose we have a very tiny state of fifty people. Thirty of them belong to the Blue Party, and 20 belong to the Red Party. And just our luck, they all live in a nice even grid with the Blues on one side of the state and the Reds on the other.

Now, let's say we need to divide this state into five districts. Each district will send one representative to the House to represent the people. Ideally, we want the representation to be proportional: if 60 percent of our residents are Blue and 40 percent are Red, those five seats should be divvied up the same way.
Fortunately, because our citizens live in a neatly ordered grid, it's easy to draw five lengthy districts  -- two for the Reds , and three for the Blues. Voila! Perfectly proportional representation, just as the Founders intended. That's grid 1 above, "perfect representation."
Now, let's say instead that the Blue Party controls the state government, and they get to decide how the lines are drawn. Rather than draw districts vertically they draw them horizontally, so that in each district there are six Blues and four Reds. You can see that in grid 2 above, "compact but unfair."
With a comfortable Blue majority in this state, each district elects a blue candidate to the House. The Blues win 5 seats and the Reds don't get a single one. Oh well! All's fair in love and politics.
In the real world, the results of this latter scenario are similar to what we see in New York, though there are no good examples of where a majority party gives itself a clean-sweep. In 2012, Democrats received 66 percent of the popular House vote. But they won 21 out of 27 House seats, or three more than you'd expect from the popular vote alone. And from a purely geometric standpoint, New York's congressional districts aren't terribly irregular -- at least not compared to other states.
Finally, what if the Red Party controls the state government? The Reds know they're at a numeric disadvantage. But with some creative boundary drawing --  the type you see in grid 3, "neither compact nor fair" -- they can slice the Blue population up such that they only get a majority in two districts. So despite making up 40 percent of the population, the Reds win 60 percent of the seats. Not bad!
In the real world, this is similar to what we see in Pennsylvania. In 2012, Democrats won 51 percent of the popular House vote. But the only won 5 out of 18 House seats -- fewer than one third. This was because when Pennsylvania Republicans redrew the state's Congressional districts, they made highly irregular districts that look like the one below, PA-7, one of the most geographically irregular districts in the nation.
Now, this exercise is of course a huge simplification. In the real world people don't live in neatly-ordered grids sorted by political party. But for real-world politicians looking to give themselves an advantage at redistricting time, the process is exactly the same, as are the results for the parties that gerrymander successfully.
The easiest way to solve this issue, of course, would be to take the redistricting process out of human hands entirely. There is already software capable of doing just that -- good luck getting any politicians to agree to it, though.













Friday, April 3, 2015

Language and Political Integration

I just realized that my answer to some Sri Lankans during my provincial election observation mission in 2013 could be misinterpreted and endanger their point of view regarding to the unitary of nation.
Some of them asked, which language Indonesians use, because they know that Indonesia has so many local languages. I said, we use Indonesian language as lingua franca. And they sighed. 
I am just thinking these days, perhaps they wonder why Sri Lanka has only 2 languages (so far I know), but they had bloody civil war for 30 years. And Indonesia has hundreds languages, but can live in peace with only one language.
It should be other explanation for that, but I didn't have time and lack of knowledge at that time. It regards to political integration. Indonesia has hundreds language and use one language: Indonesian language that originated from Melayu Pasar dialect used by Nusantara archipelago traders. And it's not a folk or a tribe or a nation. In the school, in the government office we use Indonesian language. But daily, they still speak local language. And the most important thing, the recruitment of bureaucrats and military officers are from all ethnics in Indonesia. We have affirmative action for all ethnics to join. It's different in Sri Lanka. They have only 2 languages, and they choose the one and it influences all aspecta of Tamil's life. And other things....
Oh, I should write it.... yes, after this semester finishes.

Friday, March 6, 2015

Ricuh Rancangan APBD DKI Jakarta 2015

Banyaknya sekolah dan kelurahan serta kecamatan yang menerima UPS (Uninterruptible Power Supply) di Jakarta Barat menimbulkan banyak pertanyaan. Sebagian besar lurah camat juga pihak sekolah mengaku tidak pernah meminta ataupun mengajukannya.


Dalam rapat mediasi dengan DPRD di KemendagriKamis (5/3/2015), Gubernur DKI Jakarta Basuki T Purnama (Ahok) menunjuk dan meminta Wali Kota Jakarta Barat, HM Anas Effendi untuk menjawab apakah ada atau tidak SKPD di wilayahnya yang memasukkan anggaran pembelian UPS.

Pak Anas berdiri dari tempat duduknya, namun belum sempat menjawab, Wakil Ketua DPRD Abraham Lunggana alias Haji Lulung menyela sehingga Anas pun duduk kembali dan mengurungkan niat untuk menjawab.

Surat pernyataan walikota Jakarta Barat


"Ini kan setelah bapak kumpulin kemarin, seakan ini pokoknya hasil pembahasan. Ini sesuai peraturan apa enggak?" demikian komentar haji Lulung.

"Ini sesuai peraturan! Apakah Anda membahas UPS Rp 4,2 miliar per kelurahan di Jakarta Barat‎," jawab Ahok.

Usai mediasi yang berujung buntu (deadlock), Sekretaris Daerah (Sekda) DKI Saefullah mendatangi ruang kerja Ahok dan memberikan selembar surat pernyataan dari Anas terkait banyaknya program-program lain yang tidak pernah dianggarkannya, namun muncul dalam APBD versi DPRD.



Berikut isi lengkap surat pernyataan beserta rincian program-program 'siluman' yang diberikan Wali Kota Jakarta Barat Anas Effendi:

Walikota Kota Administrasi Jakarta Barat
Surat Pernyataan 

Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama: H.M. Anas Efendi, S.H., M.M
Jabatan: Walikota Kota Administrasi Jakarta Barat selaku Pengguna Anggaran (PA) pada SKPD Walikota Kota Administrasi Jakarta Barat

Dengan ini menyatakan bahwa untuk Tahun Anggaran 2015 Sekretariat Kota Administrasi Jakarta Barat mengusulkan Rencana Kerja Anggaran (RKA) Belanja Langsung Kegiatan pada SKPD Walikota Kota Administrasi Jakarta Barat sesuai sistem e-budgeting sebesar Rp 131.914.519.591,- (seratus tiga puluh satu miliar sembilan ratus empat belas juta lima ratus sembilan belas ribu lima ratus sembilan puluh satu rupiah) terdiri dari 20 kegiatan sebagaimana terlampir. 

Bahwa setelah dilakukan penelitian ditemukan adanya penambahan anggaran kegiatan sebesar Rp 270.830.000.000,- (dua ratus tujuh puluh miliar delapan ratus tiga puluh juta rupiah) yang tidak pernah saya usulkan, terdiri dari: 

1. Pengadaan UPS 56 kelurahan @ Rp 4.220.000.000 = Rp 236.320.000.000

2. Pengadaan UPS 8 kecamatan @ Rp 4.220.000.000 = Rp 33.760.000.000


3. Penanggulangan kenakalan remaja dan pemuda dalam rangka pembentukan akhlak yang mulia di kalangan remaja dan pemuda tingkat Kota Administrasi Jakarta Barat = Rp 150.000.000

4. Penguatan mental dan spiritual bagi remaja melalui ESQ Kota Administrasi Jakarta Barat = Rp 150.000.000 

5. Sosialisasi bahaya minuman keras dan narkoba di kalangan remaja dan pemuda dengan pendekatan keagamaan tingkat Kota Administrasi Jakarta Barat= Rp 150.000.000

6. Workshop dan pengembangan character building untuk meningkatkan mental dan spiritual bagi remaja dan pemuda Jakarta Barat = Rp 150.000.000

7. ‎Peningkatan wawasan spiritual bagi remaja dan kepemudaan di Jakarta Barat = Rp 150.000.000.

Jumlah anggaran "siluman" di Pemerintah Kota Jakarta Barat mencapai Rp 270.830.000.000 (dua ratus tujuh puluh miliar delapan ratus tiga puluh juta rupiah). 

Demikian pernyataan ini dibuat dengan sebenarnya untuk digunakan sebagaimana mestinya. 

Jakarta, 2 Maret 2015
Wali Kota Kota Administrasi Jakarta Barat

(tandatangan disertai materai tempel)

Sunday, January 11, 2015

Lebanon

Lebanon, a country of just under 5 million, is one of the most liberal countries in the Middle East and has the most religious diversity of any nation in the region. But it spent the years from 1975 to 1990 locked in a bloody civil war, the aftershocks of which are reflected in the polarized political landscape of today.

Lebanon adalah negara dengan penduduk di bawah 5 juta orang, salah satu negara yang paling liberal di kawasan Timur Tengah. Tetapi dari tahun 1975 hingga tahun 1990 Lebanon dipenuhi dengan perang sipil berdarah yang direfleksikan dengan pandangan politik yang terpolarisasi hingga hari ini.

According to my opinion, the Lebanese should come to Jakarta to see the situation here. Jakarta has 10 million people, so diversity, many people from different countries, different tribes, different religions. Indonesians are liberals, capitalists and selfish as well. But we have no war, no serious conflict, only traffic jam around the clock, the pengajian (religious speech, mostly Islam) blocks the streets due to the abundant audience for couple hours or half day. Yes, sometimes we have demonstrations, chaotic ones, but only on certain issues.

Menurut pendapat saya, orang Lebanon harus datang ke Jakarta untuk melihat situasi di sini. Jakarta punya 10 juta penduduk (dua kali penduduk Lebanon). Penduduknya beragam, ada dari banyak negara, banyak suku di Indonesia, berbeda kelas dan status sosial, banyak agama, dll. Indonesia juga orang yang kapitalis dan liberal sekaligus egois. Tapi tidak ada perang, tidak ada konflik serius, paling-paling macet di jalan raya sepanjang hari, pengajian yang menutup jalan raya sehingga menambah kemacetan. Ya, kami juga punya demonstrasi yang kadang-kadang berakhir dengan suasana kacau, tapi hanya pada isu tertentu saja.  

Sunday, November 30, 2014

Hanya ada dua perempuan dalam komposisi pimpinan komisi DPR Ri 2014

Pimpinan DPR akhirnya mengesahkan nama-nama pimpinan komisi DPR, sayangnya, dari 11 ketua komisi, dan 33 wakil ketua komisi hanya terdapat 2 perempuan. 


Ketua
Wa. Ketua
Wa. Ketua
Wa. Ketua
1
PKS
Golkar
Gerindra
PAN
2
Golkar
Gerindra
Demokrat
PKS
3
Golkar
Gerindra
Demokrat
PAN
4
Gerindra
Golkar
Demokrat
PAN
5
Gerindra
Demokrat
Golkar
PKS
6
PAN
Demokrat
Golkar
Gerindra
7
Gerindra
PKS
Demokrat
Golkar
8
PAN
Golkar
Gerindra
PKS
9
Demokrat
Golkar
Gerindra
PAN
10
Demokrat
Golkar
Gerindra
PKS
11
Golkar
Gerindra
Demokrat
PAN



Dari 44 pimpinan komisi di DPR hanya ada dua perempuan berada di posisi pimpinan, itupun sebagai wakil ketua. Mereka adalah Siti Hediati Soeharto, F-Golkar, Komisi IV dan Ledia Hanifa Amaliah, F-PKS, Komisi VIII.  

















Friday, May 9, 2014

Kurs dollar, Pemilu, Ekonomi dan Pemimpin Indonesia

Hari ini saya iseng-iseng mengecek kurs rupiah terhadap mata uang asing, 1 USD =Rp 11.620, tidak berbeda jauh dengan beberapa bulan sebelumnya. Tetapi kurs Euro sungguh mengejutkan karena sudah mencapai Rp 16.169,-, ketika saya ke Austria Oktober 2012 mencapai Rp 12.300,-. Luar biasa kenaikan Euro.

Sebagai seorang pekerja freelancer, saya senang dengan tetap tingginya nilai tukar dollar. Karena sebagian pekerjaan saya dibayar dengan dollar. Saya juga mengajar bahasa Jerman dan dengan sejumlah teman bekerja sama untuk mengurus siswa Indonesia yang akan kuliah di Jerman. Saya dapat memperkirakan pukulan yang berat bagi orangtua yang kondisi uangnya pas-pasan untuk membiayai perkuliahan anaknya di luar negeri. Biaya yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari membengkak. Syukur-syukur jika mereka memiliki tabungan dalam mata uang Euro dan Dollar, sehingga tidak terlalu shock dengan perubahan nilai mata uang. Sebagai rakyat biasa sekaligus aktivis, hati saya miris karena kentara sekali bahwa ekonomi Indonesia tidak kuat dan dimainkan oleh pihak asing sehingga tidak mampu mengatur nilai mata uangnya sendiri. 


Kenapa setiap pemilu, kurs dollar selalu naik? Karena pemilu adalah ajang mencari pemimpin. Kalau orang Indonesia, khususnya yang golput, tidka peduli dengan pemilu, maka masyarakat internasional, khususnya negara maju dan donor sangat peduli dengan calon pemimpin Indonesia. Kalau bisa yang mendukung gerakan mereka di Indonesia. Jika tidak, maka sumbangan, hibah atau bantuan kepada Indonesia "akan dipertimbangkan".

Meski kelihatan secara kasat mata bahwa Indonesia khususnya Jakarta sangat maju dan modern, tetapi jika dirata-ratakan secara keseluruhan dari Sabang sampai Merauke, Indonesia masih negara berkembang alias belum maju. Cadangan devisa Indonesia seujung kuku cadangan devisa negara Eropa dan Amerika Utara, bahkan kalah jauh dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Untuk level negara, kekuatan ekonomi negara dilihat dari besaran cadangan devisa negara tersebut. Dalam level individu, cadangan devisa setara dengan buku tabungan di bank. Siapa yang punya uang lebih banyak, dialah yang mempunyai kekuasaan. Ini memang hanya simplifikasi atau penyederhanaan dari keuangan dan perekonomian sebuah negara.  

Lalu bagaimana untuk memperbesar cadangan devisa negara? Yang pertama dan paling sering dilakukan adalah menaikkan pemasukan dari sektor pajak. Tetapi apa yang terjadi jika rakyat semakin tercekik dengan pajak ini dan itu. Pemerintah harus membuka sektor perdagangan ke luar negeri atau keran ekspor. Yang terjadi selama ini justru sebaliknya. Pemerintah Indonesia justru menggalakkan sektor impor di berbagai bidang bahkan pertanian seperti beras, gandum, bawang putih, cabe, sapi dan lain-lain. Terlalu banyak untuk dihitung. Padahal Indonesia (mestinya) mampu menanam dan menghasilkan produk-produk pertanian. Rakyat juga harus berani untuk mengekspor barang-barang Indonesia keluar negeri. Produk baju Indonesia sangat diminati di luar negeri, seperti di Malaysia, Singapura, Sri Lanka dan Afrika. Di kota Hat Yai, Thailand selatan, banyak produk batik dan busana Indonesia di jual di sana dibawa oleh pedagang Malaysia. Demikian juga dengan Sri Lanka, saya melihat sendiri dari Kolombo yang terletak di provinsi Barat hingga Kalmunai yang terletak di provinsi Timur banyak produk busana Indonesia dipajang di sana. 

Perusahaan-perusahaan Indonesia juga harus berani berekspansi ke berbagai negara. Saya melihat banyak perusahaan India dan Cina beroperasi di negara-negara pasca konflik seperti Afghanistan dan Pakistan. Tidak heran jika kedua negara ini menjadi kekuatan ekonomi Asia yang saling bersaing. Pemerintah Indonesia harus gesit, cerdas membaca peluang, bekerja secara efektif dan efisien untuk membantu para pengusaha yang akan berekspansi ke luar negeri. 

Pemasukan Indonesia yang lain sebenarnya adalah dari tenaga kerja. Sayang sekali, tenaga kerja yang paling banya di-"ekspor" oleh Indonesia adalah tenaga kerja kasar seperti pembantu dan supir yang dibungkus dengan istilah TKW dan TKI. Meski jumlah orangnya besar, tetapi secara rupiah, uangnya sebenarnya tidak banyak. Berbeda, jika orang Indonesia bekerja sebagai tenaga ahli atau tenaga kerja terdidik. Jumlahnya tidak banyak, tetapi nilai rupiah yang didapatkan cukup besar. 

Kuncinya adalah pendidikan dan keterampilan, termasuk kemampuan berbahasa Inggris. Pembantu dari Filipina mendapat gaji yang lebih tinggi daripada pembantu dari Indonesia, karena orang Filipina bisa berbahasa Inggris. Kedua, orang Filipina dilatih untuk berani berkata kepada "tidak" kepada majikan yang menyuruh mereka bekerja jika tidak sesuai dengan kontrak. Orang Indonesia biasa, terbiasa dan dibiasakan untuk manut kepada majikan meskipun mereka "menginjak" harga diri. 

Alternatif pemasukan lainnya adalah dari sektor pariwisata. Pemerintah Indonesia sudah cukup berpromosi, tetapi kadang tidak menghitung jumlah pemasukan yang diperoleh dengan jumlah pengeluaran berpromosi. Kementerian pariwisata harus bekerja sama dengan kementerian yang mengurus infra struktur di lapangan atau daerah wisata, sehingga turis tidak kecewa ketika datang ke tempat wisata tersebut. 

Pantai Anyer dan pantai Pattaya di Thailand sebenarnya sama indahnya. Tetapi infra struktur menuju ke pantai Anyer jauh sekali berbeda dengan infra struktur menuju Pattaya. Dari Suvarnabhum airport ke Pattaya memakan waktu 1,5 - 2 jam saja melalui jalan tol yang lebar mulus. Bandingkan dengan jalur yang harus ditempuh dari Jakarta ke pantai Anyer. Dari jalan tol Kebon Jeruk ke kota Anyer memang cukup lancar, ada macet di sana sini, tapi okelah. Begitu memasuki kota Anyer, muncul rasa sebal. Jalanan yang berlubang-lubang, rumah penduduk yang kumuh dan bergenteng keputihan karena polusi merupakan pemandangan yang harus dinikmati sepanjang jalan. 

Pemimpin Indonesia di masa mendatang haruslah orang yang mampu menggali potensi Indonesia dari berbagai sektor tanpa harus menguras kekayaan alam Indonesia. Pemilu menjadi ajang pemilihan pemimpin Indonesia, karena itu rakyat Indonesia harus peduli dengan calon pemimpinnya, dan turut berpartisipasi dalam pemilu juga dalam pengawasan jalannya pemerintahan. Semoga.

Monday, April 28, 2014

Aburizal Bakrie


Berat untuk menang, meski banyak uang dan bersedia menggelontorkan uang berapapun agar menang dalam pemilu presiden mendatang. Mesin Golkar tidak bekerja dengan baik, karena kader Golkar yang militan sekarang makin sedikit. Bahkan, meski diberi uang dan fasilitas pun, belum tentu mereka akan bekerja. 

Betul kata Prabowo, bahwa mental kader Golkar adalah mental uang. Om saya adalah mantan pengurus DPC Golkar Jakarta Pusat dan mantan anggota DPRD Jakarta tahun 2004-2009, dan saya melihat bagaimana dia dikelilingi kader-kader Golkar yang kalau datang pasti minta uang dengan hanya menyebutkan, "Pak, kemarin waktu kampanye saya bawa orang sekian lho, kemarin sejumlah tetangga saya mencoblos Golkar, lho."

Ditambah lagi dengan kasus lumpur Lapindo yang belum kunjung usai dan memang sulit diselesaikan. Luka penghuni daerah tersebut merupakan luka yang tidak mungkin dihapus oleh rakyat Indonesia, tetapi Bakrie Grup justru lari dari tanggung jawab. Padahal, kalau mereka berniat dan melakukan tanggung jawabnya, meski tidak bisa sepenuhnya, tidak cuma orang Sidoajo saja yang berterima kasih, tapi rakyat Indonesia akan tersentuh. Orang Indonesia adalah orang yang mudah disentuh hatinya dan ketika tersentuh, mereka akan lupa keisengan, dan kelakuan anda. Tapi ARB dan tim suksesnya justru mengabaikan hal itu. Pileg merupakan petunjuk berharga untuk Golkar, jika mereka mau belajar.