Website counter

Sunday, November 30, 2014

Hanya ada dua perempuan dalam komposisi pimpinan komisi DPR Ri 2014

Pimpinan DPR akhirnya mengesahkan nama-nama pimpinan komisi DPR, sayangnya, dari 11 ketua komisi, dan 33 wakil ketua komisi hanya terdapat 2 perempuan. 


Ketua
Wa. Ketua
Wa. Ketua
Wa. Ketua
1
PKS
Golkar
Gerindra
PAN
2
Golkar
Gerindra
Demokrat
PKS
3
Golkar
Gerindra
Demokrat
PAN
4
Gerindra
Golkar
Demokrat
PAN
5
Gerindra
Demokrat
Golkar
PKS
6
PAN
Demokrat
Golkar
Gerindra
7
Gerindra
PKS
Demokrat
Golkar
8
PAN
Golkar
Gerindra
PKS
9
Demokrat
Golkar
Gerindra
PAN
10
Demokrat
Golkar
Gerindra
PKS
11
Golkar
Gerindra
Demokrat
PAN



Dari 44 pimpinan komisi di DPR hanya ada dua perempuan berada di posisi pimpinan, itupun sebagai wakil ketua. Mereka adalah Siti Hediati Soeharto, F-Golkar, Komisi IV dan Ledia Hanifa Amaliah, F-PKS, Komisi VIII.  

















Friday, May 9, 2014

Kurs dollar, Pemilu, Ekonomi dan Pemimpin Indonesia

Hari ini saya iseng-iseng mengecek kurs rupiah terhadap mata uang asing, 1 USD =Rp 11.620, tidak berbeda jauh dengan beberapa bulan sebelumnya. Tetapi kurs Euro sungguh mengejutkan karena sudah mencapai Rp 16.169,-, ketika saya ke Austria Oktober 2012 mencapai Rp 12.300,-. Luar biasa kenaikan Euro.

Sebagai seorang pekerja freelancer, saya senang dengan tetap tingginya nilai tukar dollar. Karena sebagian pekerjaan saya dibayar dengan dollar. Saya juga mengajar bahasa Jerman dan dengan sejumlah teman bekerja sama untuk mengurus siswa Indonesia yang akan kuliah di Jerman. Saya dapat memperkirakan pukulan yang berat bagi orangtua yang kondisi uangnya pas-pasan untuk membiayai perkuliahan anaknya di luar negeri. Biaya yang sudah dipersiapkan jauh-jauh hari membengkak. Syukur-syukur jika mereka memiliki tabungan dalam mata uang Euro dan Dollar, sehingga tidak terlalu shock dengan perubahan nilai mata uang. Sebagai rakyat biasa sekaligus aktivis, hati saya miris karena kentara sekali bahwa ekonomi Indonesia tidak kuat dan dimainkan oleh pihak asing sehingga tidak mampu mengatur nilai mata uangnya sendiri. 


Kenapa setiap pemilu, kurs dollar selalu naik? Karena pemilu adalah ajang mencari pemimpin. Kalau orang Indonesia, khususnya yang golput, tidka peduli dengan pemilu, maka masyarakat internasional, khususnya negara maju dan donor sangat peduli dengan calon pemimpin Indonesia. Kalau bisa yang mendukung gerakan mereka di Indonesia. Jika tidak, maka sumbangan, hibah atau bantuan kepada Indonesia "akan dipertimbangkan".

Meski kelihatan secara kasat mata bahwa Indonesia khususnya Jakarta sangat maju dan modern, tetapi jika dirata-ratakan secara keseluruhan dari Sabang sampai Merauke, Indonesia masih negara berkembang alias belum maju. Cadangan devisa Indonesia seujung kuku cadangan devisa negara Eropa dan Amerika Utara, bahkan kalah jauh dengan negara tetangga seperti Malaysia dan Singapura. Untuk level negara, kekuatan ekonomi negara dilihat dari besaran cadangan devisa negara tersebut. Dalam level individu, cadangan devisa setara dengan buku tabungan di bank. Siapa yang punya uang lebih banyak, dialah yang mempunyai kekuasaan. Ini memang hanya simplifikasi atau penyederhanaan dari keuangan dan perekonomian sebuah negara.  

Lalu bagaimana untuk memperbesar cadangan devisa negara? Yang pertama dan paling sering dilakukan adalah menaikkan pemasukan dari sektor pajak. Tetapi apa yang terjadi jika rakyat semakin tercekik dengan pajak ini dan itu. Pemerintah harus membuka sektor perdagangan ke luar negeri atau keran ekspor. Yang terjadi selama ini justru sebaliknya. Pemerintah Indonesia justru menggalakkan sektor impor di berbagai bidang bahkan pertanian seperti beras, gandum, bawang putih, cabe, sapi dan lain-lain. Terlalu banyak untuk dihitung. Padahal Indonesia (mestinya) mampu menanam dan menghasilkan produk-produk pertanian. Rakyat juga harus berani untuk mengekspor barang-barang Indonesia keluar negeri. Produk baju Indonesia sangat diminati di luar negeri, seperti di Malaysia, Singapura, Sri Lanka dan Afrika. Di kota Hat Yai, Thailand selatan, banyak produk batik dan busana Indonesia di jual di sana dibawa oleh pedagang Malaysia. Demikian juga dengan Sri Lanka, saya melihat sendiri dari Kolombo yang terletak di provinsi Barat hingga Kalmunai yang terletak di provinsi Timur banyak produk busana Indonesia dipajang di sana. 

Perusahaan-perusahaan Indonesia juga harus berani berekspansi ke berbagai negara. Saya melihat banyak perusahaan India dan Cina beroperasi di negara-negara pasca konflik seperti Afghanistan dan Pakistan. Tidak heran jika kedua negara ini menjadi kekuatan ekonomi Asia yang saling bersaing. Pemerintah Indonesia harus gesit, cerdas membaca peluang, bekerja secara efektif dan efisien untuk membantu para pengusaha yang akan berekspansi ke luar negeri. 

Pemasukan Indonesia yang lain sebenarnya adalah dari tenaga kerja. Sayang sekali, tenaga kerja yang paling banya di-"ekspor" oleh Indonesia adalah tenaga kerja kasar seperti pembantu dan supir yang dibungkus dengan istilah TKW dan TKI. Meski jumlah orangnya besar, tetapi secara rupiah, uangnya sebenarnya tidak banyak. Berbeda, jika orang Indonesia bekerja sebagai tenaga ahli atau tenaga kerja terdidik. Jumlahnya tidak banyak, tetapi nilai rupiah yang didapatkan cukup besar. 

Kuncinya adalah pendidikan dan keterampilan, termasuk kemampuan berbahasa Inggris. Pembantu dari Filipina mendapat gaji yang lebih tinggi daripada pembantu dari Indonesia, karena orang Filipina bisa berbahasa Inggris. Kedua, orang Filipina dilatih untuk berani berkata kepada "tidak" kepada majikan yang menyuruh mereka bekerja jika tidak sesuai dengan kontrak. Orang Indonesia biasa, terbiasa dan dibiasakan untuk manut kepada majikan meskipun mereka "menginjak" harga diri. 

Alternatif pemasukan lainnya adalah dari sektor pariwisata. Pemerintah Indonesia sudah cukup berpromosi, tetapi kadang tidak menghitung jumlah pemasukan yang diperoleh dengan jumlah pengeluaran berpromosi. Kementerian pariwisata harus bekerja sama dengan kementerian yang mengurus infra struktur di lapangan atau daerah wisata, sehingga turis tidak kecewa ketika datang ke tempat wisata tersebut. 

Pantai Anyer dan pantai Pattaya di Thailand sebenarnya sama indahnya. Tetapi infra struktur menuju ke pantai Anyer jauh sekali berbeda dengan infra struktur menuju Pattaya. Dari Suvarnabhum airport ke Pattaya memakan waktu 1,5 - 2 jam saja melalui jalan tol yang lebar mulus. Bandingkan dengan jalur yang harus ditempuh dari Jakarta ke pantai Anyer. Dari jalan tol Kebon Jeruk ke kota Anyer memang cukup lancar, ada macet di sana sini, tapi okelah. Begitu memasuki kota Anyer, muncul rasa sebal. Jalanan yang berlubang-lubang, rumah penduduk yang kumuh dan bergenteng keputihan karena polusi merupakan pemandangan yang harus dinikmati sepanjang jalan. 

Pemimpin Indonesia di masa mendatang haruslah orang yang mampu menggali potensi Indonesia dari berbagai sektor tanpa harus menguras kekayaan alam Indonesia. Pemilu menjadi ajang pemilihan pemimpin Indonesia, karena itu rakyat Indonesia harus peduli dengan calon pemimpinnya, dan turut berpartisipasi dalam pemilu juga dalam pengawasan jalannya pemerintahan. Semoga.

Monday, April 28, 2014

Aburizal Bakrie


Berat untuk menang, meski banyak uang dan bersedia menggelontorkan uang berapapun agar menang dalam pemilu presiden mendatang. Mesin Golkar tidak bekerja dengan baik, karena kader Golkar yang militan sekarang makin sedikit. Bahkan, meski diberi uang dan fasilitas pun, belum tentu mereka akan bekerja. 

Betul kata Prabowo, bahwa mental kader Golkar adalah mental uang. Om saya adalah mantan pengurus DPC Golkar Jakarta Pusat dan mantan anggota DPRD Jakarta tahun 2004-2009, dan saya melihat bagaimana dia dikelilingi kader-kader Golkar yang kalau datang pasti minta uang dengan hanya menyebutkan, "Pak, kemarin waktu kampanye saya bawa orang sekian lho, kemarin sejumlah tetangga saya mencoblos Golkar, lho."

Ditambah lagi dengan kasus lumpur Lapindo yang belum kunjung usai dan memang sulit diselesaikan. Luka penghuni daerah tersebut merupakan luka yang tidak mungkin dihapus oleh rakyat Indonesia, tetapi Bakrie Grup justru lari dari tanggung jawab. Padahal, kalau mereka berniat dan melakukan tanggung jawabnya, meski tidak bisa sepenuhnya, tidak cuma orang Sidoajo saja yang berterima kasih, tapi rakyat Indonesia akan tersentuh. Orang Indonesia adalah orang yang mudah disentuh hatinya dan ketika tersentuh, mereka akan lupa keisengan, dan kelakuan anda. Tapi ARB dan tim suksesnya justru mengabaikan hal itu. Pileg merupakan petunjuk berharga untuk Golkar, jika mereka mau belajar.

Rhoma Irama


Rhoma Irama rupanya tidak belajar dari pengalaman sebelumnya. Keledaipun tak akan terantuk pada batu yang sama. RI terantuk pada tiga batu!!! Batunya memang beda nama dan warna, tapi tetap batu. 

Bergabung dengan PPP dan Golkar, jelas-jelas mereka hanya mau mengambil suara dari pendukung RI. Sekarang RI bergabung dengan PKB yang suaranya anjlok dengan iming-iming dijadikan bacapres. PKB naik, maka RI pun siap-siap ditinggalkan. Kali ini pendukung RI meradang dan mengancam PKB.
 
Tapi semalam mendengar argumen RI yang lemah dalam mempertahankan posisinya sebagai bacapres PKB sebagaimana janji Cak Imin di awal kongsi, bagaimana mungkin Cak Imin mampu mempertahankan dirinya sebagai Bacapres dari "serangan" dan kritik pimpinan dan umat PKB lainnya? Kalau sekarang tidak mampu berargumen, bagaimana RI, jika terpilih sebagai bacapres berargumen menghadapi serangan dari pihak capres lain maupun internal partai? Bagaimana RI, jika terpilih jadi presiden beneran, berargumen dengan berbagai pihak baik dalam negeri dan luar negeri untuk mempertahankan kebijakan yang dibuat pemerintah Indonesia?

Sudahlah bang Haji, saya fans Anda sejak tahun 80-an. Saya lebih suka mendengar lagu-lagu kritik politik sosial Anda yang luar biasa daripada mendengar Anda berargumen politik yang dasarnya lemah sekali.




I am big fans of him since 80-ies. His songs varied from love, religious and politics, social critics songs. However he has bad luck in his political career.

He joined two political parties previously, PPP and Golkar, now he joins PKB. All of them just wanted to use him to get vote from his fans. And they won at least in certain constituencies. Now, PKB would like to leave him, though PKB promised him to be its presidential candidate, once he joined PKB. After PKB won (9% from national vote), PKB left him in uncertainty. He and his winning team are upset and warn PKB. But RI's arguments are so weak to defend his position.

How Muhaimin, the leader of PKB who approached and promised him, can defend him in the front of other PKB leaders and constituents? How Rhoma Irama can defend himself? How Rhoma Irama can defend Indonesia and its policy, once he will be elected as president someday? 

It's better for him just to be a singer, because he is born to be a great singer. Not to be politician.

Jokowi atau Joko Widodo


Jokowi?

Jokowi orang baik, mau bekerja dan bekerja dengan baik. 



Tapi untuk jadi presiden, itu saja gak cukup. Buat saya, popularitas Jokowi yang ada saat ini adalah bubble effect, efek gelembung sabun yang biasa dimainkan anak-anak. Begitu gelembung tersebut lenyap, nothing left



Teknik kampanye tim sukses Jokowi adalah teknik marketing Cina Glodok. Barangnya biasa-biasa saja, tapi kelebihan-kelebihannya dihembus-hembus dan diulang-ulang. Keburukan barang ditutup-tutupi. Yang penting barangnya laku dan gak ada garansi !!!

Memasarkan Jokowi tidak ubahnya memasarkan motor Jialing beberapa waktu lalu. Iklannya gencar, ada juga pembelian di sana sini, tapi gak nutup, sehingga Jialing harus berganti nama dan akhirnya mundur dari Indonesia. 

Kenapa Jokowi menang di pilgub DKI kemarin? Karena Jokowi adalah pilihan yang jauh lebih baik daripada Foke. Karena Jokowi bisa menenangkan gemuruh perasaan warga DKI yang sudah jengkel dengan Foke dan politik dinasti Sutiyoso dan pensiunan tentara di atasnya. Tapi Indonesia bukan hanya Jakarta dan masalah Indonesia jauh lebih kompleks daripada Jakarta. 

Tim sukses Jokowi harus bekerja lebih keras lagi untuk menenangkan dan memenangkan hati pemilih Indonesia. Tapi bukan kampanye saling sikut, kalau itu yang terus dilakukan seperti yang ada saat ini, malah justru bisa jadi bumerang.

Prabowo Subianto

Dari semua nama-nama kandidat presiden yang beredar, intuisi saya mengarah ke Prabowo. Meski dihujani banyak kritik, khususnya dari kalangan aktivis mengenai penculikan aktivis tahun 1998, tapi Prabowo yang paling punya peluang terpilih jadi presiden. 

Pertama, dia adalah pensiunan tentara. Dalam sejarah kepresidenan Indonesia, salah satu syarat jadi presiden adalah harus dari militer. Ketika sipil yang menjadi presiden (Habibie, Gus Dur, dan Mega), tentara (dan polisi) tidak tenang. Sewaktu Gus Dur terpilih jadi presiden tahun 1999, saya memperkirakan tentara akan masuk kancah politik Indonesia 10 tahun lagi atau dua kali periode pemilu. Mengingat "kejengkelan memuncak" rakyat Indonesia terhadap Soeharto yang notabene adalah militer. Tapi tahun 2004, tentara tidak sabar menunggu dua periode itu, maka ditaruhlah SBY, pensiunan tentara yang cukup kalem dan bisa diterima sipil.

Kedua, bergabungnya PKS dengan Gerindra. Saya menunggu kemana PKS berkoalisi, baru saya menulis analisis ini, karena jujur saja, PKS pandai 'membaca arah angin'. Siapa yang diperkirakan akan menang, itulah yang didekati PKS. Kalau dalam marketing, PKS meniru Alfamart dan Indomaret, toko mereka kadang tak berjauhan, karena pihak analisis masing-masing punya kemiripan data dan penarikan kesimpulan, dan toh kenyataannya dua-duanya tetap ramai dikunjungi pembeli.

Ketiga, dari diskusi dengan sejumlah teman-teman yang memiliki analisa yang bisa saya percaya, kesimpulan mereka adalah hanya Prabowo yang punya blue print mengenai Indonesia dan kebijakan Indonesia di masa mendatang. Prabowo sendiri adalah tentara yang kutu buku dan memiliki perpustakaan pribadi mengenai militer terlengkap di Indonesia. Jadi kalau blue print itu ada, itu adalah hasil pemikirannya.

Dalam hal blue print atau penyebutan visi misi, Jokowi masih mengelak. Dugaan saya adalah, karena Jokowi tergantung pada tim suksesnya dan partainya. Kalau perencanaan mereka sudah matang, baru Jokowi akan mengemukakannya ke publik.

Balik lagi ke masalah intuisi. Oktober 2010 saya ke Solo, dan intuisi saya mengatakan bahwa Jokowi akan ke Jakarta. Setelah terpilih jadi Gubernur DKI, saya mencari-cari intuisi, mungkinkah Jokowi menjadi presiden RI? Saya tidak mendapatkannya hingga hari ini. Jadi saya harus memakai logika saya.

Saya paham kegalauan Megawati dalam menentukan Jokowi sebagai capres dari PDI-P dan sekarang menentukan cawapres bagi Jokowi. Pasangan Jokowi-JK adalah sesuatu yang tidak mungkin. JK sudah tidak punya "pulung" sebagai cawapres. Sebagai negarawan dan bapak bangsa, ya. Jika tetap terjadi, Jokowi-JK adalah sipil, dan artinya militer sulit menerimanya.

Tuesday, January 14, 2014

Antara Banten dan Thailand: Kasus Atut Chosiyah dan Yingluck SInawatra


Ditahannya Ratu Atut Chosiyah oleh KPK beberapa waktu lalu disambut gembira oleh sejumlah warga provinsi Banten. Hal ini  karena mengguritanya kekuasaan keluarga besar mereka, khususnya di Banten. Tetapi melarang mereka untuk ikut menjadi kandidat dalam pemilihan umum apapun, yah gak bisa. Namanya juga demokrasi, siapapun memiliki hak dipilih dan memilih. Kalau tidak suka dengan keluarga Atut, yah jangan pilih kandidat yang berasal dari keluarga mereka atau punya afiliiasi dengan mereka. Kalau sampai terpilih, artinya lebih banyak yang percaya dengan mereka daripada yang tidak percaya mereka. Atau ujug-ujug minta semua keluarga mereka turun dari jabatan, weleh-weleh. 

Saya mewawancara seorang kandidat perempuan dari partai Rak Shanti dalam pemilu parlemen Thailand 2011

Nah, sama dengan kejadian di Thailand saat ini. PDRC yang merupakan kamuflase dari Partai Prachatipat (arti sebenarnya adalah "Demokrasi" bukan "Demokrat") meminta Yingluck Sinawatra dari partai Pheu Thai untuk turun jabatan dan menolak rekonsiliasi apapun dengan keluarga Sinawatra, termasuk ikut pemilu 2 Februari mendatang. Bahkan memblokir kantor pendaftaran caleg, sehingga banyak caleg tidak bisa mendaftar. Alasan PDRC aka PD intinya adalah meminta keluarga Sinawatra mundur dari perpolitikan Thailand. 

Faktanya, pendukung keluarga Sinawatra jauh lebih besar daripada pendukung Partai Demokrat, karena itu mereka menang telak pemilu kemarin dan kemungkinan di pemilu mendatang. Militer Thailand menolak ikut campur dalam artian membubarkan massa yang berpartisipasi dalam Bangkok Shutdown. Dan di kota-kota lain di saat yang sama, ribuan massa Phue Thai memenuhi jalanan untuk mendukung jalannya pemilu mendatang. Perang sipil seperti diramalkan banyak pihak, bisa saja terjadi sewaktu-waktu.